Rabu, 06 April 2011

jejak dari SAMARA -mendidik anak-

Bismillah ...
senin 19 juli 2010
Mencoba menulis tentang mereka ...
Oleh2dari SAMARA (Sakinah mawaddah wa rahmah) sebuah agenda di kampus untuk mbak mbak dan mas mas D3 khusus dan D4 dalam versi yang berbeda ... jika sebelumnya mbak ute dan mas ariesca telah ngepost mengenai isi talkshownya (lihat di blog mereka), saya tidak akan ngepostulang, karena memang saya hanya mengikuti di bagian akhir saja alias kesimpulan....
Karena saya tidak berkesempatan mendengarkan langsung talkshownya, jadi saya tidak akan ngepost tentang hal itu,
Anak-anaklumutan (Lucu Imut dan menggemaskAN), =piss, mengikuti jejak seseorangdalam penyebutan ini, semoga tdk diminta bayar royalti= mengalihkandunia saya hari itu, tepatnya karena memang jobdescnya gitu...
Ahad itu saya menyaksikan berbagai macam contoh teladan di depan mata,mengenai bagaimana cara mendidik mereka, sebagai seorang yangbercita-cita menjadi seorang guru, tentu saja ini bekal berharga buatsaya
Ehm, saya mulai menyambung-nyambungkannya dengan sebuah buku yang sedang berada ditangan saya, hasil meminjam dari seorang  ummahat yang hari ahad  itu saya kunjungi krn menitipkan pernak perniknya untuk SAMARA...
Sedikit bekal untuk para guru, dan calon ibu dan calon bapak ...
25 kiat memepengaruhi jiwa dan akal anak by Muhammad rasyid dimas
Anak adalah amanah bagi setiap orangtua untuk bisa mendidiknya dengan sebaik-baiknya,  seperti dalam QS At tahrim ayat 6, ataupun dalam berbagai hadits.
Anak itu bagaikan kertas putih dimana orangtua bisa menggoreskan apapundiatasnya, fitrah pada diri anak masih bersifat netral yaitu bahwa jiwaanak pada masa masa permulaan adalah putih dan belum membentuk apapunjua. Tapi sperti yang diungkapkan john locke  bahwaakal seorang anak layaknya kertas putih yang siap tergores oleh beragampengalaman dan proses pembelajaran. Kemudahan prose pemebelajaran  padamasa kecil sangat jauh berbeda dengan proses pemebelajaran saat iatelah dewasa. Hal ini dipertegas dengan pepatah "kucing yang besartidak bisa di atur" (seperti yang ada dikosan saya) dan begitu jugaselaras dg pernyataan berikut :
Etika yang diajarkan pada masa kecil akan berguna dan tidak bila diajarkanpada masa dewasa. Ranting bila dilurusakan akan bisa mengikuti namuntidak dengan kayu ...
Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling erentan dalam sejarah tumbuhkembang seorang anak manusia. Di masa ini lah seorang anak menyerapbanyak hal dalam hidupnya. Dan ini merupakan masa pembentukan suatukepribadian,
Beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengambil dan mempengaruhi jiwa mereka :
1.       Jadilah teman dan panutan bagi anak
Bermaindan berteman memiliki peranan yang besar dalam membentuk jiwa anak. Ialayaknya cermin. Seorang anak akan menjadi cermin bagi orang yangdipilihnya untuk menjadi teman atau sahabatnya. Rasulullah seringmenemani anak2 dalam permainannya, bliau pernah menemani ibnu abbas,ja'far, anas. Yang saya lihat di hari itu , bagaimana para ibu menemanianak2nya bermain bola-bola kecil, dan berbagai permainan yang lainmeski sebenarnya anaknya bisa ditinggal bersama kami, dan mereka bisasaja kembali ke tempat seminar seperti yang dilakukan oleh seorang ibu(haduh saya lupa namanya) tapi memang karena anaknya begitu nurut samaorang lain, shg ditinggal berjam2 pun tidak menangis ... hanya sesekaliminta digendong dan meminta bercerita upin n ipin. Kisah lain adaseorang bapak yang dengan setia menemani anaknya disekeliling kami,karena anaknya yang sama sekali gak bisa ditinggal, bahkan ketika kamimencoba mengajaknya bermain main malah nangis. Jadi bapak itu gak jadiikut seminar malah mainan bola n pensil warna dengan nakanya. Berbedadengan bapak MC yang datang juga bersama anak dan istrinya, sesekalisuami istri ini menjenguk anaknya fathin, anak yang cukup pendiam dannurut. Fathin sosok imut lucu, diem, nurut n gak rewel, tapi sesekalisaat melihat ayahnya datang menjenguknya malah gak mau ditinggal,n larilari mengejarnya. yang bisa  kita contoh adalahsaat sang ayah mengajaknya menggambar karena fathin gak mau ditinggal,tapi setelah digambarkan sesuatu dan fathin mulai serius dengangambarnya, barulah sang ayah pergi meninggalkannya untuk kembali jadiMC... jadi menemani anak bermain itu penting,
2.Penuhilah hak hak anak
anak2 seperti org dewasa, mereka membthkan perhatian n simpati.jadisaat mereka melakukan kesalahan, jgn lgsg dtegur, dkritik atwpundimarahi, tp tunjukanlah sikap perhatian dan sikap sayang qt padanya,
memberikan kpd anak haknya, ini akan mbwt anak dg sng hati menunaikan kwjbny,memberikan simpati pd perasaanny, ini akan menanamkan skp positif dlm dirinya dan ia pun akn mampu menjalani hdpny dg optimal.
iaakan belajar bhw hdup ini adl proses memberi n menerima. Iapun mjdtbiasa untk menunaikan kwjbny n mberikan kpd org lain hakny. Hal initlaksana krn sang anak menemukan panutan dan teladan yg baik
3.. Berikanlah kegembiraan pada anakjiwa anak yg bebas dan jernihsangat mencintai kegembiraan n keceriaan. Bahkan bisa dikatakan bhwaanak mrpk kegembiraan tsendiri bg org dewasa. Ehm benerkan ? Saat stresqt memuncak, bermain dg mereka adl hal mgembirakan, mlht tingkah merekayg lucu n mggemaskan bs mjd alat tsendiri untk mghibur qt. Apalagimelihat mereka yg tertawa ceria atw memanjakan diri dhadapan qt. Disisilain, anakpun menyukai senyuman tulus dr wajah org dewasa yg adadisekelilingnya... Jadi jgn sungkan untk pasang tampang plg manis d dpnmreka,makanya kalo adik bayi lg nangis, salah satu jurus jitunyamenggendong sambil menampakan muka terlucu n teraneh dari qt, meskitkadang tlht spt org gila...
4 .tanamkanlah jiwa kompetisi pada diri anak
sering seringlahmengajak anak2 berlomba, atw mengadakan pertandingan2 kecil untk anak2,misalnya lomba mewarnai, lomba lari, ataupun lomba merangkai huruf danbikin2 hiasan pintu, dg ini qt bs menggali potensi yg dmiliki anak2
5.bercandalah dg anak dan berilah dia mainan
jgn lupa ajak anak2bermain, agar kedekatan qt dg anak smakin kuat, dan qt tdk hanya bperansbg org tua =nanti insyaAllah= atw kakak tp juga teman n sahabat ygbaik,
jd inget dulu rasulullah juga pernah menaikan hasan n husain ke punggungnya kmdn bjalan layaknya bmain kuda kudaan=spt masa kcl saya jg=
hoho mgkn ini yg dterapkan bpk saya jg, sampe saya udh se"dewasa" ini bapak msh suka ngajak tanding badminton,
seorg lelaki drumahny hendakny blaku layaknya anak kcl, yakni dalam blaku lemah lembut , tdk mudah marah, n mampu bmain dg anak2ny, tp bl dperlakukan, ia bs berlaku layaknya seorg laki2 lainy =umar bin khatab
ijinkan anak2 bermain stlh ia belajar, agar anak bs melepaskan lelah fikirannya.
jangan lupa beri ia mainan,tapi, mainan itupun harus yg mendidik,kalod samara kmrn kebanyakan mainan2 kecil2 spt bola2, bentuk2 hewan ygberbunyi, lingkaran2 ,kotak2, yg smwnya insyaAllah bs djadikan saranabelajar juga
plus jgn lupa beda ya mainan anak putri n putra,kalo adek saya yg putra biasanya dibeliinya mainan mobil2an, atwpun yg lainkalo saya, boneka dllumur 20tahun kmrn saja saya msh dapet hadiah boneka kodok warna ijo dari seorang al ukht
aisyah saja bermain boneka, jd sptnya tdk masalah

-bersambung-

ibu

Ibu, perkenankan air mataku
terbayang wajahmu yang redup sayu
tulusnya kasih sayang yg kau hantarkan
bagaikan laut yg tak bertepian

biarpun kepahitan telah engkau rasakan
tidakpun engkau merasa jemu
mengasuh dan mendidik kami smw anakmu, dari kcl hingga dewasa,

hdpmu kau korbankan,
tak dpt ku balasi akan smw ini
smg Allah memberkahi khdpnmu ibu

Tetaplah di dalamnya

AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.
Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.

"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.

Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.

"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.

Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."

"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.

Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari Anda, pembaca...

Wallahu a'lam.

sumber: Majalah Al-Izzah, No. 07/Th.4

jejakku -anak anak-

Bismillah
1feb 2011 at 22.35 dan rapat msh blangsung byk hal yg saya dpt hari ini,

dialog makan malam
peni "ibu gak nginep aja, kemaleman lho bu"
ibu "ntar siapa yg nyiapin kebutuhan anak2 besok pen, anak saya 3 lho"

dialog ketika outbond kmrn antara ibu2 pelatih senam dg bpk2 catering bbrapa menit stlh senam pagi n saya pun sdg asyik menikmati nasi d dpn saya

bpk "silahkan dimakan bu sarapan paginy"
ibu "ah wanita itu 2jam sbelum n stelah senam gak boleh makan ntar jadi gendut"
*saya slg menatap dg tman dsamping saya mdgr pmbicaraan ini

slanjutny
ibu "saya lbh nyaman kerja gini, nglatih senam, plg cuma 3jam kerja trus bs ngurus anak2 lagi, kalo dulu pergi pagi pulg malem, jd gak ada wkt bwt anak2 kan kshn anak2"
*saya smakin bfikir tajam

beberapa bulan yg lalu tjd dialog antara bpk (tmen kantor) n saya ketika kami rapat dan slesai sktr jam 11 malem d dpn lift
peni "pak pulang ? Gak nginep aja? Kan jauh, nympe jam brapa pak"
bpk "iya pen, anak2 ntar nangis kalo saya ndak pulang, palingan jam 1 nyampe"

21 tahun dan sudah pemikiran saya mgenai anak2 smkn tajam, membayangkan jam kerja 7.30-17.00 normal jika gak normal bs smpe malem spt jam 23.00 inipun rapat blm slesai,
teringat di salah satu impian saya yg saya tuliskan di tugas kspk tk 3 lalu "membuat taman pendidikan kanak2" smg suatu saat nanti...

21 tahun dan ýg sedang saya fikirkan adalah bgmn menambah bekal yg msh sdikit n bsiap krn jatah hdup smakin bkurang,dan msh memikirkan bgmn anak2 saya nanti

bismillah

Selasa, 05 April 2011

Antara "ingin" dan "layak" (rahasia muslimah^^)

-Resume Kuliah Fiqh Munakahat, 1 April 2011-
 by : yurisa https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150211104800568

Nikah adalah ujian, bagi siapa? Bagi mereka yang mau menikah (bukan hanya bagi yang sudah menikah).. Apa yang akan dilakukan orang ketika mau ujian? Serius belajar!
Maka pahamilah dulu, bahwa dari seantero definisi nikah, definisi PERTAMA yang harus kita ketahui adalah: Ujian.
Ya, Menikah adalah ujian..

Melihat kembali motifnya, apakah menikah itu keinginan ataukah kebutuhan?
Jika ada seseorang menikah hanya karena alasan "ingin", maka ia hanyalah seorang anak kecil yang ingin menikah. Namun jika menjadi butuh, maka ia akan menganggapnya sebagai hal yang teramat serius..layaknya ada ujian mendadak..mukanya akan berubah menjadi lebih serius jika membicarakan nikah.

Seorang muslimah sudah dianggap butuh menikah bukanlah dilihat dari usianya. Ada tiga hal yang dapat dijadikan parameter apakah seorang muslimah sudah layak/pantas/butuh menikah, yaitu:
  1. Lihatlah hubungan dengan orangtua (walinya). Perempuan yang shalihah di mata orangtuanya, patuh, taat, dan tawadhu', maka ia memang sudah sepantasnya menikah. Agar apa? Agar orangtua ikhlas dan ridho dan tenang melepas anak perempuannya. Mengapa? Karena ketika muslimah menikah maka baktinya dialihkan pada suaminya, dan bukan lagi orangtua. Pun ketika orangtua sakit dan suami tidak mengizinkan menjenguk, bakti pada suami adalah yang harus didahulukan.
  2. Sejauh mana perilaku kesehariannya punya rasa ta'awun (mau menolong orang lain) yang tinggi. Sejauh mana ia peka, berempati, mudah dan cepat memahami orang lain. Bergaul dengan baik dengan sekitarnya, tidak diwarnai ghil-ghil (dengki) dalam hatinya. Karena modal menikah dimulai dari tafahum (saling memahami) kemudian ta'awun. Mengapa? Karena menikah adalah bentuk saling bantu-membantu dalam kebaikan. Membantu suami agar ia menjadi lebih baik. Membantu tetangga di sekitarnya menjadi lebih baik lagi. Membangun bi'ah shalihah (lingkungan yang baik) tidak hanya di rumah tapi juga di masyarakat.
  3. Ketika ia sudah memahami seutuhnya bahwa nikah adalah jihad baru. Bukankah, jihad itu medan yang sulit lagi berat, dan bukan jalan yang menyenangkan? Maka jika ada perempuan yang membayangkan nikah adalah kesenangan, itu pertanda ia belum siap menikah. Perempuan yang menganggap nikah adalah perjuangan, itu niscaya akan berbahagia, insyaaAllah.
  4. Belum mempunyai calon. Karena bisa jadi kesiapannya sangat subjektif. Misalkan saja, seorang ikhwan yang belum dewasa, masih labil, cengeng, manja pada orangtuanya, namun sudah mandiri secara finansial. Ketika disodorkan calon, karena cantik, akhirnya ia mengatakan "saya sudah siap menikah". Maka menikah si ikhwan adalah kesiapan yang subjektif. Selain itu, jatuh cinta bukanlah syarat seseorang siap menikah. Justru kesiapan menikah bukanlah dilandasi oleh adanya cinta diawalnya (apalgi kalo sampe pacaran, HTS-an, dsj). Mereka yang mensyaratkan cinta untuk menikah, maka kesiapannya tak lebih dari sebuah keinginan yang subjektif. Benarkah keinginan itu subjektif? Contoh bahwa keinginan itu bisa subjektif: kita udah makan nasi di warung Barokah sore2, malamnya kita disodori traktiran ayam bakar. Walaupun kita sudah kenyang, bukankah seringkali kita tetap ingin? Ya, itulah keinginan subjektif. Kebutuhan atau kesiapan menikah tidak disertai syarat harus calon tertentu, misal: "saya hanya ingin menikah hanya dengan si Fulan".
  5. Menikah adalah hal penting yang harus diperhatikan. Syariat dari Allah yang pertama adalah perintah menikah, yakni antara Adam dan Hawa di surga. Lalu bagaimana ketika ada seorang muslimah yang belum layak menikah tapi sudah ingin menikah? Keinginan tersebut harus dikelola untuk dilawan.. Belajarlah dulu untuk siap, hingga rasa ingin itu berubah menjadi suatu kelayakan. Kesiapan menikah muncul dari ilmu yang dimiliki. Ia sudah memiliki pengetahuan akan fiqh munakahat. Sejauh manakah ilmu tentang menikah yang sudah dipelajari? Apa saja rukun dan syaratnya? Bagaimana tarbiyatul awlad? Apa hak dan kewajibannya? Semuanya tidak bisa kita pelajari dengan cara SKS (Sistem Kebut Semalem). Layaknya haji, tentunya harus paham syarat-rukunnya sebelum kita melaksanakan haji. Kita tidak mungkin bisa shalat, tanpa kita tahu dahulu bagaimana gerakan dan bacaannya, dan bagaimana cara meraih khusyuknya. Ya, begitupula menikah :)
    Maka..sudahkah kita siap, atau hanya ingin?

ketika generasi awal menyempal

Semula, ia adalah satu dari empat orang. Empat orang yang menyadari bahwa negerinya berada di jalan yang salah. Ada penyimpangan besar. Maka, hari itu mereka saling berjanji. Berjanji untuk merahasiakan perkara besar, bahwa mereka hendak melakukan perubahan.

Peristiwa di hari itu kemudian dicatat sejarah. Saat semua orang-orang Makkah berkumpul di sekitar berhala dan berkorban untuk mereka, empat orang itu berkumpul di tempat terpisah, berkomitmen menjaga rahasia "perjuangan."

"Kita semua harus saling percaya dan menjaga rahasia ini," kata salah seorang dari mereka. "Ya!", jawab yang lainnya serempak.

Sejak peristiwa itu mereka mencari jalan masing-masing. Berusaha menemukan kebenaran. Bertualang mencari tauhid dan menghindari penyimpangan besar penduduk Makkah; kemusyrikan, khamr, pembunuhan bayi perempuan. Empat orang itu adalah Waraqah bin Naufal, Ubaidillah bin Jahsy, Utsman bin Al-Huwairits, dan Zaid bin 'Amr bin Naufal.

Sementara Waraqah menjadi Nasrani, Ubaidillah bin Jahsy masih kebingungan. Hingga tibalah masa diutusnya Muhammad sebagai Rasulullah. Demi mendapatkan keyakinan yang selama ini dicarinya, Ubaidillah bin Jahsy memeluk Islam. Menjadi kader generasi awal.

Pada tahun kelima kenabian, sejumlah sahabat hijrah ke Habasyah. Termasuk Ubaidillah bin Jahsy dan istrinya, Ramlah binti Abu Sufyan yang memiliki nama kuniyah Ummu Habibah. Di Habasyah, ketika kaum muslimin mendapatkan perlindungan, kondisinya aman, bebas dari siksaan dan intimidasi yang selama di Makkah selalu menghiasi dakwah, Ubaidillah bin Jahsy justru menyempal. Murtad. Keluar dari Islam. Pada akhirnya, ia meninggal sebagai seorang Nasrani.

Ubaidillah bin Jahsy. Kader generasi awal yang menyempal. Bukan kader biasa, ia hidup di bawah dakwah Rasulullah. Bertemu langsung dengan penutup para Nabi. Mendapatkan ajaran dari beliau. Bahkan merasakan pahit getirnya mempertahankan Islam di Makkah, bahkan berpisah dari tanah air menuju negeri seberang. Murtad.

Riwayat hidup Ubaidillah bin Jahsy mengajarkan kepada kita bahwa istiqamah itu memang sulit. Sangat sulit. Tidak ada jaminan bagi kita untuk terus isitiqamah. Durasi yang lama bersama dakwah tidak pula menjamin kita istiqamah. Realita ini seharusnya juga menyadarkan kita, bahwa sehebat apapun jamaah dakwah, tidak akan mampu menjami seluruh kadernya istiqamah. Sehebat apapun sistem kaderisasi, tetap ada peluang kader yang menyempal, termasuk kader generasi awal. Bukankah tidak ada jamaah yang lebih hebat dari generasi pertama umat ini, generasinya Rasulullah SAW dan para sahabat radhiyallaahu anhum?

Gerakan dakwah kontemporer juga mendapati fenomena yang sama. Yusuf Qardhawi mengisahkan perselisihan partai Al Wafd terhadap Ikhwanul Muslimin. Dalam bukunya, Aku dan Al-Ikhwan Al-Muslimin, Yusuf Qardahwi menceritakan bahwa dari perselisihan itu Partai Wafd menebar tipu daya terhadap Ikhwan, hingga berhasil mempengaruhi Ustadz Ahmad As-Sukari. Ahmad As-Sukari, yang sebelumnya adalah pendiri Ikhwanul Muslimin bersama Hasan Al-Banna, juga menjadi Sekjend Ikhwan, menyatakan keluar dari jamaah. Bukan hanya menyempal, As-Sukari lalu menyerang Ikhwan.

Harian Al-Wafd menyediakan ruangan khusus di halaman pertamanya sebagai media bagi As-Sukari untuk menyerang Ikhwan. Maka ia pun menulis “Bagaimana kekeliruan Hasan Al-Banna dalam Dakwah Ikhwanul Muslimin?”.

Mereka mengira tulisan dan pernyataan As-Sukari akan menghancurkan Ikhwan, memecah barisannya, menjadikan sebagian kader Ikhwan ikut menyempal. Ternyata, harapan mereka kandas. Ikhwan tetap kuat, kokoh, solid. "Namum kenyataannya", tulis Yusuf Qardhawi mengisahkan, "keluarnya As-Sukari dari barisan Ikhwan ibarat menarik sehelai rambut dari tepung. Tak ada yang menangisi kepergiannya, tak ada hati yang peduli merindukannya. Para Ikhwan hanya menyayangkan apa yang ia tulis di media massa tersebut."

Apa yang terjadi pada Ubaidillah bin Jahsy, bahkan apa yang terjadi pada As-Sukari bisa saja menimpa seluruh jamaah dakwah di bumi manapun dan periode sejarah kapan pun. Karenanya Rasulullah mengajarkan doa kepada kita agar tetap istiqamah di jalan-Nya: Allaahumma yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinik (Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu). Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]
 
copast from http://muchlisin.blogspot.com/2011/03/ketika-kader-generasi-awal-menyempal.html

Senin, 04 April 2011

berbahagialah duhai ukasyah

Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya.


----------

Aku pernah melihat Al-Musthafa pada sebuah malam
Langit cerah tanpa banyak awan
Ku pandangi wajah Rasulullah
Lalu mataku beralih menatap rembulan
Ternyata menurut penglihatanku
Beliau lebih cemerlang dibanding pendar rembulan
(Jabir Bin Samurah, Sahabat Rasulullah)

eramuslim - Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu. Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma. Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yang dicinta, itulah muasalnya.

Setelah peristiwa Haji Wada' kesehatan nabi Muhammad Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah saat-saat perpisahan dengan purnama Madinah telah menjelang. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari banyak kegembiraan.

Dan masa pun berselang.
Mesjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya Nabi bertanya.

"Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik".

Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.

Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah 'Ukasyah Ibnu Muhsin.

"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku" ucap 'Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan 'Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata:

"Hai 'Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul"

"Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", Nabi memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah dengan pandangan memohon. 'Ukasyah tidak bergeming.

Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani.

"Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku"

"Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah kembali" Tukas Nabi.

"Hai 'Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga", kini yang tampil di depan U'kasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Nabi menegur mereka. "Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah".

Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi 'Ukasyah mengambil kisas. "Wahai 'Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku," Nabi selangkah maju mendekatinya.

"Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. 'Ukasyah menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka".

Dengan tersenyum, Nabi berkata: "Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini". 'Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. "Duhai, 'Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga". Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

***

Nasyid Raihan :

Tuhan....
diri ini tidak layak ke surgamu
Namun, tidak jua
aku sanggup ke neraka Mu
Semoga ku kan selamat
Dunia akhirat
Seperti Rasul dan Sahabat